Jumat 01 Januari 2016. pendidikan. ALIRAN-ALIRAN TEOLOGI ISLAM. LAHIRNYA aliran teologi Islam adalah reaksi dari skisme (perpecahan) politik umat Islam. Tragedi skisme itu terabadikan dalam sebuah ungkapan “al-fitnah al-kubra”. Proses skisme itu berawal dari terbunuhnya Usman Ibn Affan, yang pada akhirnya berimplikasi serupa terhadap
Aliranrekonstruksionisme ini sangat berpengaruh terhadap pendidikan di Indonesia, sebab pendidikan di Indonesia perlu adanya rekonstruksi atau tatanan baru untuk dunia pendidikan. Agar lebih maju dan dapat mengikuti perkembangan zaman serta menyesuaikan dengan perkembangan IPTEK, sehingga pendidikan di Indonesia tidak
Padasaat sekarng ini, pelaksanaan pendidikan di Indonesia jauh dari efisien, dimana pemanfaatan segala sumberdaya yang ada tidak menghasilkanlulusan yang diharapkan. Dalam dunia pendidikan setidaknya terdapat 3 macam aliran pendidikan, yaitu aliaran klasik, aliran modern dan aliran pendidikan pokok di Indonesia. B. Macam-macam aliran
AliranAliran Klasik dalam Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Pemikiran Pendidikan di Indonesia. Terdapat suatu pokok pendapat aliran nativisme yang berpengaruh luas yakni bahwa dalam diri individu terdapat suatu ’inti’ pribadi yang mendorong manusia untuk mewujudkan diri, mendorong manusia dalam menentukan pilihan dan kemauan sendiri
bahasantersebut hanya dibatasi pada beberapa rumpun aliran klasik, pengaruhnya sampai saat ini dan dua tonggak penting pendidikan di Indonesia. Aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaruan pendidikan. Pertama, “teori“ dipergunakan oleh para pendidik untuk menunjukkan hipotesis-hipotesis tertentu dalam rangka membuktikan
ALIRANKEPERCAYAAN (AK) kembali menjadi isu nasional yang ramai dibincangkan baru-baru ini di media massa. Seperti yang telah diberitakan di media pada Selasa 7/11/2017, Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan gugatan atas pasal 61 UU No. 23/2006 dan pasal 64 UU No. 24/2013 tentang administrasi kependudukan yang mewajibkan mengisi kolom
Bertujuanuntuk mendekatkan anak dengan alam dan sekitarnya. Pendiri gerakan ini yaitu antara lain : Fr, A. Finger (1880-1888) di Jerman dengan Heimatkunde (pengajaran alam sekitar) dan J Lightart (1859-1916) di Belanda dengan Het Volle Leven (kehidupan senyatanya). - Beberapa prinsip gerakan Heitmatkunde:. a. Dengan cara mengajar alam sekitar, guru dapat
REPUBLIKACO.ID, JAKARTA -- Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) bersama Results Internasional menyebut ada tiga permasalahan utama pendidikan di Indonesia. Masing-masing, yakni kualitas guru, sekolah yang tidak ramah anak dan deskriminasi terhadap kelompok marginal. 'Ada tiga isu strategis yang perlu mendapat perhatian,' kata
Yangdimaksud Dua aliran pokok di Indonesia adalah Perguruan Kebangsaan Taman Siswa dan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam. Kedua aliran ini dipandang sebagai suatu tonggak pemikiran tentang pendidikan di Indonesia. Secara historis, pendidikan yang melembaga telah dikenal sebelum Belanda menjajah Indonesia. 1.
Penugasan SUB POKOK BAHASAN: Kajian Ontologis, Epistemologis, Aksiologis sebagai Landasan Ilmu Pendidikan. Kegunaan Ilmu Pendidikan dalam Penyelesaian masalah kependidikan. Sifat dan Hakikat Manusia. Implikasi Manusia dalam pelaksanaan pendidikan. Pendidikan, Pengajaran dan Perubahan Tingkah laku.
74MNkF. Aliran-Aliran Pokok Pendidikan di Indonesia Dari berbagai aliran pendidikan di Indonesia ada dua aliran pokok yang perlu kita pelajari yaitu Pendidikan Taman Siswa dan Pendidikan INS Institut Nasional Syafe’i. Hal ini antara lain karena latar belakang dan kepentingan pendiriannya untuk semua bangsa secara umum tanpa melihat ras, suku, daerah, wilayah, keyakinan, dan keagamaan, atau golongan tertentu saja, sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia. Disamping itu waktu pendiriannya terutama karena mereaksi pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda yang sangat tidak menguntungkan kepentingan bangsa Indonesia, baik kesempatan yang diberikan, diskriminasi bangsa dan golongan, maupun kepentingan hasil pendidikan misalnya hanya untuk menyiapkan pegawai rendahan yang dibutuhkan oleh Belanda. Perguruan Kebangsaan Taman Siswa Perguruan Kebangsaan Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1932 di yogyakarta, yakni dalam bentuk yayasan. a. Asas Taman Siswa 1 Bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat terbitnya persatuan dalam peri kehidupan umum. 2 Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekan diri. 3 Bahwa pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri. 4 Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat. 5 Bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuhnya lahir maupun batin hendaknyadiusahakan dengan kekuatan sendiri, dan menolak bantuan apapun dan dari siapapun yang mengikat, baik berupa ikatan lahir maupun ikatan batin. 6 Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka harus mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan. 7 Bahwa dalam mendidik anak-anak perlu adanya keiklasan lahir dan batin untuk mengobarkan segala kepentinganpribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anak-anak. Kemudian ditambahkan dengan asas kemerdekaan, asas kodrat alam, asas kebudayaan, asas kebangsaan, dan asas kemanusiaan. Tujuan Taman Siswa 1 Sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat tertib dan damai. 2 Membangun anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir dan batin, luhur akal budinya, serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas keserasian bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya. Upaya-upaya yang dilakukan Taman Siswa Beberapa usaha yang dilakukan oleh taman siswa adalah menyiapkan peserta didik yang cerdas dan memiliki kecakapan hidup. Dalam ruang lingkup eksternal Taman siwa membentuk pusat-pusat kegiatan kemasyarakatan. Hasil-hasil yang Dicapai Taman siswa telah berhasil menemukan gagasan tentang pendidikan nasional, lembaga-lembaga pendidikan dari Taman indria sampai Sarjana Wiyata, dan sejumlah besar alumni perguruan. Ruang Pendidik INS Kayu Tanam Ruang Pendidik INS Indonesia Nederlandsche School didirikan oleh Mohammad Sjafei pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayu Taman sumatera Barat. Asas dan Tujuan Ruang Pendidik INS Kayu Tanam 1 Berpikir logis dan rasional 2 Keaktifan atau kegiatan 3 Pendidikan masyarakat 4 Memperhatikan pembawaan anak 5 Menentang intelektualisme Tujuan Ruang pendidik INS Kayu Tanam adalah 1 Mendidik rakyat ke arah kemerdekaan 2 Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat 3 Mendidik para pemuda agar berguna untuk masyarakat 4 Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan berani bertanggung jawab. 5 Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan. Upaya-upaya Ruang Pendidik INS Kayu Tanam Beberapa usaha yang dilakukan oleh Ruang Pendidik INS Kayu Tanam antara lain menyelenggarakan berbagai jenjang pendidikan, menyiapkan tenaga guru atau pendidik, dan penerbitan mjalah anak-anak Sendi, serta mencetak buku-buku pelajaran. Hasil-hasil yang Dicapai Ruang Pendidik INS Kayu Tanam Ruang Pendidik INS Kayu Tanam mengupayakan gagasan-gagasan tentang pendidikan nasional utamanya pendidikan keterampilan/kerajinan, beberapa ruang pendidikan jenjang persekolahan, dan sejumlah alumni.
PENGERTIAN ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKANAliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemikiran-pemikiran tentang pendidikan telah dimulai dari zaman Yunani kuno sampai kini. Oleh karena itu bahasan tersebut hanya dibatasi pada beberapa rumpun aliran klasik, pengaruhnya sampai saat ini dan dua tonggak penting pendidikan di pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaruan pendidikan. Pertama, “teori“ dipergunakan oleh para pendidik untuk menunjukkan hipotesis-hipotesis tertentu dalam rangka membuktikan kebenaran-kebenaran melalui eksperimen dan observasi yang berfungsi menjalankan pokok bahasannya. Kata “teori” sebagaimana yang dipergunakan dalam konteks pendidikan secara umum adalah sebuah tema yang apik. Teori yang dimaksudkan hanya dianggap dengan baik dalam bidang psikologi atau sosiologi hingga sampai kepada praktek kependidikan .O’ConnorSeorang ahli pendidikan Mesir Kontemporer Muhammad Nujayhi merefleksikan pandangan senada dengan O’Connor, bahwa perkembangan-perkembangan di bidang psikologi eksperimental membawa kesan-kesan ke dalam dunia pendidikan dan memberi sumbangan bagi teori-teori pendidikan ,sebagaimana yang terdapat pada bidang ilmu pengetahuan khusus. Dengan demikian,”teori” dalam arti pertama terbatas pada penjelasan mengenai persoalan-persoalan berkaitan dengan batas-batas “teori” menunjuk kepada bentuk asas-asas yang saling berhubungan yang mengacu kepada petunjuk praktis. Dalam pengertian ini, bukan hanya mencangkup pemindahan-pemindahan eksplanasi fenomena yang ada, namun termasuk didalamnya mengontrol atau membangun Aliran Pendidikan 1. Aliran Empirisme EnvironmentalismeAliran Empirisme adalah aliran yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia. Aliran ini menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung pada lingkungan, sedangkan pembawaan yang dibawanya dari semenjak lahir tidak dipentingkan. John Lock, filsuf Inggris yang mengembangkan paham rasionalisme pada abad ke-18, menyatakan bahwa anak yang lahir ke dunia dapat diumpamakan seperti kertas putih yang kosong yang belum ditulisi atau dikenal dengan istilah “tabularasa’ a blank sheet of paper. Teori ini mengatakan bahwa manusia yang lahir adalah anak yang suci seperti meja lilin. Dengan demikian, menurut aliran inin anak-anak yang lahir ke dunia tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa, sebagai kertas putih yang polos. Oleh karena itu, anak-anak dapat dibentuk sesuai dengan keinginan orang dewasa uang memberikan warna pendidikannya. Menurut teori ini, pendidikan memegang peranan penting sebab pendidikan menyediakan lingkungan yang sangat ideal kepada anak-anak, selain itu teori ini dipandang sebagai aliran yang sangat optimis terhadap pendidikan, karena teori ini hanya mementingkan peranan pengalaman yang diproses dari lingkungan, kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan keberhasilam seseorang dan masih menganggap manusia sebagai makhluk yang pasif, mudah dibentuk atau Aliran NativismeTeori ini menentang teori empirisne, dengan tokohnya seorang filsuf Jerman, Schopenhauer 1788-1860, dikatakan bahwa anak-anak yang lahir ke dunia sudah memiliki pembawaan yang akan berkembang menurut arah masing-masing, keberhasilan pendidikan anak ditentukan oleh anak itu sendiri. Teori ini menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk factor pendidikan kurang berpengaruh terhadap pendidikan anak. Pendidikan tidak akan mempengaruhi perkembangan anak karena setiap anak telah memiliki pembawaannya. 3. Aliran NaturalismeTeori ini dipengaruhi oleh seorang filsafat Prancis ia berpendapat setiap anak yang baru dilahirkan pada hakikatnya memiliki pembawaan baik. Namun, pembawaan baik yang terdapat pada setiap anak itu akan berubah sebaliknya karena dipengaruhi oleh lingkungan keluarga,sekolah,masyarakat. mengungkapkan “segala sesuatu adalah baik ketika ia baru keluar dari alam,dan segala sesuatu menjadi jelek manakala ia sudah berada di tangan manusia”, agar seorang anak dapat bertumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, anak tersebut harus diserahkan pada alam. Kekuatan alam yang akan mengajarkan kebaikan yang terlahir secara alamiah sejak kelahiran anak tersebut. Beragam kebaikan itu akan terus diserap oleh setiap anak secara spontan dan bebas dari rekayasa orang Aliran KonvergensiAliran konvergensi merupakan gabungan dari aliran-aliran di atas, aliran ini menggabungkan pentingnya hereditas dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia, tidak hanya berpegang pada pembawaan, tetapi juga kepada faktor yang sama pentingnya yang mempunyai andil lebih besar dalam menentukan masa depan seseorang. Aliran konvergensi mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkemangan manusia itu adalah tergantung pada dua faktor, yaitu faktor bakat/pembawaan dan faktor lingkungan, pengalaman/pendidikan. Inilah yang di sebut teori konvergensi. convergentie=penyatuan hasil, kerjasama mencapai satu hasil. Konvergeren=menuju atau berkumpul pada satu titik pertemuan. William Stern1871-1939, seorang ahli pendidikan bangsa Jerman, dan sebagai pelopor aliran ini mengatakan “kemungkinan-kemungkinan yang di bawa lahir itu adalah petunjuk-petunjuk nasib depan dengan ruangan permainan. Dalam ruangan permainan itulah letaknya pendidikan dalam arti se luas-luasnya. Tenaga-tenaga dari luar dapat menolong, tetapi bukanlah ia yang menyebabkan pertumbuhan itu, karena ini datangnya dari dalam yang mengandung dasar keaktifan dan tenaga pendorong” Jadi menurut Williem seorang anak di lahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun buruk. Bakat yang di bawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu, sebaliknya lingkungan yang baik dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang di perlukan untuk pengembang itu. Lingkungan pun mempengaruhi anak didik dalam mengembangkan pembawaan bahasanya, karena itu anak manusia mula-mula menggunakan bahasa Aliran ProgresifismeTokoh aliran ini adalah John Dewey yang berpendapat bahwa manusia mempunyai kemmpuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah yang bersifat menekan atau yang bersifat mengancam dirinya. Aliran ini memandang bahwa peserta didik mempunyai alat dan kecerdasan, hal ditunjukkan dengan fakta bahwa manusia mempunyai kelebihan jika dibanding makhluk kecerdasan menjadi tugas utama pendidik yang secara teori mengerti karakter peserta didiknya. Peserta didik tidak hanya dipandang sebagai kesatuan jasmani dan rohani, namun juga termanifestikan di dalam tingkah laku dan perbuatan yang berada dalam Aliran KonstruksifismeTokoh aliran ini adalah Gambahsta Vico,seorang epistermiolog Italia, ia mengatakan bahwa Tuhan adalah cipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan. Hanya Tuhan yang dapat menegetahui segala sesuatu karena Dia pencipta segala sesuatu itu dan manusia hanya dapat mengetahui sesuatu yang dikonstruksikan ini dikembangkan oleh Jean Piaget dalam teori perkembangan kognitif, bahwa pengetahuan merupakan interaksi kontinu antara individu satu dengan lingkungannya. Aliran Pendidikan yang digunakan di IndonesiaDua aliran pokok pendidikan di Indonesia itu di Indonesia itu dimaksudkan adalah Perguruan Kebangsaan Taman Siswa dan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam. Kedua aliran tersebut dipandang sebagai tonggak pemikiran tentang pendidikan di Perguruan Kebangsaan Taman SiswaPerguruan Kebangsaan Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1932 di yogyakarta, yakni dalam bentuk Asas dan Tujuan Taman SiswaAsas Taman Siswa Bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri dengan terbitnya persatuan dalam peri kehidupan umum. Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekan diri. Bahwa pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri. Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat. Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka harus mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan. Bahwa dalam mendidik anak-anak perlu adanya keiklasan lahir dan batin untuk mengobarkan segala kepentinganpribadi demi keselamatan dan kebahagiaan ditambahkan dengan asas kemerdekaan, asas kodrat alam, asas kebudayaan, asas kebangsaan, dan asas Taman Siswa Sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat tertib dan damai. Membangun abak didik menjadi manusia yang merdeka lahir dan batin, luhur akal budinya, serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas keserasian bangsa, tanah air, serta manusia pada Upaya-upaya yang dilakukan Taman SiswaBeberapa usaha yang dilakukan oleh Rtaman siswa adalah menyiapkan peserta didik yang cerdas dan memiliki kecakapan hidup. Dalam ruang lingkup eksternal Taman siwa membentuk pusat-pusat kegiatan Hasil-hasil yang DicapaiTaman siswa telah berhasil menemukakan gagasan tentang pendidikan nasional, lembaga-lembaga pendidikan dari Taman indria sampai Sarjana Wiyata. Taman siswa pun telah melahirkan alumni alumni besar di Ruang Pendidik INS Kayu TanamRuang Pendidik INS Indonesia Nederlandsche School didirikan oleh Mohammad Sjafei pada tanggal 31 Oktober 1926 di Kayu Tanam sumatera Barat.a. Asas dan Tujuan Ruang Pendidik INS Kayu TanamPada awal didirikan, Ruang Pendidik INS mempunyai asas-asas sebagai berikut1 Berpikir logis dan rasional2 Keaktifan atau kegiatan3 Pendidikan masyarakat4 Memperhatikan pembawaan anak5 Menentang intelektualismeDasar-dasar tersebut kemudian disempurnakan dan mencakup berbagai hal, seperti syarat-syarat pendidikan yang efektif, tujuan yang ingin dicapai, dan Ruang pendidik INS Kayu Tanam adalah1 Mendidik rakyat ke arah kemerdekaan2 Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat3 Mendidik para pemuda agar berguna untuk masyarakat4 Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan berani bertanggung Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan. B. Upaya-upaya Ruang Pendidik INS Kayu TanamBeberapa usaha yang dilakukan oleh Ruang Pendidik INS Kayu Tanam antara lain menyelenggarakan berbagai jenjang pendidikan, menyiapkan tenaga guru atau pendidik, dan penerbitan mjalah anak-anak Sendi, serta mencetak buku-buku Hasil-hasil yang Dicapai Ruang Pendidik INS Kayu TanamRuang Pendidik INS Kayu Tanam mengupayakan gagasan-gagasan tentang pendidikan nasional utamanya pendidikan keterampilan/kerajinan, beberapa ruang pendidikan jenjang persekolahan, dan sejumlah sosial di bidang pendidikan yang memiliki cita-cita untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia sudah dimulai dari masa penjajahan. Gerakan ini umumnya diperankan dan diinisasi oleh anak muda Indonesia yang peduli akan kemajuan dan masa depan sumber daya manusia bangsa. Beberapa gerakan pendidikan di Indonesia meliputiBudi UtomoGerakan Budi Utomo lahir di tengah keprihatinan para pemuda dan pelajar mengenai masa depan pendidikan Indonesia. Gerakan yang diprakarsai oleh Dr. Wahidin pada tanggal 20 Mei 1908 ini berjuang agar para pelajar Indonesia dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sebagai aset utama bangsa. Sampai detik ini, kelahiran organisasi ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan MuhammadiyahOrganisasi Muhammadiyah didirikan oleh Ahmad Dahlan 1869-1925. Selain bergerak di bidang dakwah islam, Muhammadiyah juga bergerak di bidang pendidikan dan lahir sebagai organisasi yang turut memadukan ilmu umum dan ilmu agama. Ahmad Dahlan bahkan masuk ke sekolah-sekolah bangsawan untuk mengajarkan basis ilmu keagamaan. Meski kental dengan ajaran agama islam, pergerakan ini termasuk cukup berpengaruh pada perkembangan substansi pendidikan bangsa. Indonesia MengajarIndonesia Mengajar merupakan sebuah gerakan pendidikan yang dijalankan oleh anak-anak muda Indonesia dengan berbagai latar belakang ilmu dan budaya. Anak-anak muda ini memberikan kontribusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh penjuru Indonesia khususnya di daerah-daerah terpencil dengan cara menjadi guru muda dan memastikan seluruh anak Indonesia mendapat pendidikan yang layak. Gerakan pendidikan ini diinisiasi pertama oleh Anis Baswedan, seorang tokoh masyarakat yang peduli akan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia yang menurutnya berakar dari pentingnya arti sebuah pendidikan. Gerakan Indonesia Mengajar berdiri secara resmi pada tahun 2009 dan telah berhasil memenuhi kekosongan guru pada banyak daerah terpencil di Indonesia. Penggerak utama gerakan ini yaitu para pemuda Indonesia, dialah yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi, memiliki kecakapan mengajar dan telah menjalani pelatihan soft skill sebelumnya. Informasi lebih lanjut mengenai gerakan ini dan syarat pendaftarannya dapat dilihat pada situs Sekolah Guru IndonesiaSGI merupakan sebuah gerakan pendidikan yang berada di bawah divisi pendidikan lembaga Dompet Dhuafa Indonesia. Seperti halnya Indonesia Mengajar, SGI diperankan oleh pemuda-pemuda Indonesia yang bersedia berkontribusi untuk peningkatan kualitas pendidikan Indonesia di seluruh penjuru daerah. Masa pengabdian SGI pun sama dengan halnya Indonesia Mengajar yaitu satu tahun. Diresmikan pada tanggal 24 Oktober 2009, SGI sudah mengirimakan guru-guru muda ke 31 Kabupaten terdepan, terluar dan terpencil di Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut mengenai SGI, silahkan mengunjungi situs Selain itu, pemerintah Indonesia pun membuat gerakan pendidikan yang sama halnya dengan Indonesia Mengajar dan SGI. Berada di bawah Kementrian Pemuda dan Olahraga, gerakan ini telah mencetak guru muda yang nantinya akan berkontribusi dan mengabdi selama dua tahun di daerah-daerah terpencil di Indonesia.
A. Aliran Klasik Aliran klasik adalah pemikiran-pemikiran yang ada sejak dulu, dimulai dari zaman Yunani Kuno. Pemikiran tersebut kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai negara Eropa dan Amerika. Sehingga sampai saat ini, kedua wilayah tersebut sering dijadikan acuan sebagai tolak ukur ada empat aliran klasik yang menjadi benang merah antara pemikiran-pemikiran zaman dulu dengan masa sekarang. Keempat aliran tersebut yaitu 1 Empirisme, 2 Nativisme, 3 Konvergensi, dan 4 Naturalisme. 1. Aliran Empirisme Tokoh aliran Empirisme adalah John Lock, filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. Teorinya dikenal dengan Tabulae rasae meja lilin, yang menyebutkan bahwa anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang bersih. Kertas putih akan mempunyai corak dan tulisan yang digores oleh lingkungan. Faktor bawaan dari orangtua faktor keturunan tidak dipentingkan. Pengalaman diperoleh anak melalui hubungan dengan lingkungan sosial, alam, dan budaya. Pengaruh empiris yang diperoleh dari lingkungan berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luar memegang peranan sangat penting, sebab pendidik menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak, dan anak akan menerima pendidikan se¬bagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. 2. Aliran Nativisme Tokoh aliran Nativisme adalah Schopenhauer. la adalah filosof Jerman yang hidup pada tahun 1788-1880. Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor bawaan sejak la¬hir. Faktor lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak. 3. Aliran Naturalisme Tokoh aliran ini adalah Rousseau. la adalah filosof Prancis yang hidup tahun 1712-1778. Natu¬ralisme mempunyai pandangan bahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga aliran Natural¬isme sering disebut Negativisme. 4. Aliran Konvergensi Tokoh aliran Konvergensi adalah William Stem. la seorang tokoh pendidikan Jerman yang hidup tahun 1871-1939. Aliran Konvergensi merupakan kompromi atau kombinasi dari aliran Nativisme dan Empirisme. Aliran ini berpendapat bahwa anak lahir di dunia ini telah memiliki bakat baik dan buruk, sedangkan perkembangan anak selanjutnya akan dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi, faktor pembawaan dan lingkungan sama-sama berperan penting. 5. Aliran Progresivisme Tokoh aliran Progresivisme adalah John Dewey. Aliran ini berpendapat bahwa manusia mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah yang bersifat menekan, ataupun masalah-masalah yang bersifat mengancam dirinya. B. Aliran ModernManusia senantiasa berusaha mendapatkan hasil yang maksimal dalam hidupnya. Begitu juga dalam bidang pendidikan. Para praktisi dan akademisi di dunia pendidikan selalu berusaha membuat gerakan-gerakan baru guna meningkatkan kualitas pendidikan. Dari sinilah muncul aliran-aliran modern yang dalam pemikirannya bertujuan untuk membentuk mutu pendidikan yang lebih baik. Di Indonesia sendiri, menurut Mudyaharjo 2001, setidaknya ada lima macam aliran modern dalam pendidikan. Kelima aliran tersebut adalah Progresivisme, Esensialisme, Rekonstruksionalisme, Perennialisme, dan Aliran ProgresivismeProgresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak child-centered, sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru teacher-centered atau bahan pelajaran subject-centered.Tujuan pendidikan dalam aliran ini adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja, bekerja secara sistematis, mencintai kerja, dan bekerja dengan otak dan hati. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan harusnya merupakan pengembangan sepenuhnya bakat dan minat setiap anak. 2. Aliran EsensialismeEsensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes gerakan progresivisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial. Menurut esensialisme nilai-nilai yang tertanam dalam nilai budaya/sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun dan di dalamnya berakar gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu. Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di pendidikan dari aliran ini adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu dan dengan demikian adalah berharga untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh ketrampilan. Ketrampilan, sikap-sikap dan nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti esensial dari sebuah pendidikan Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang tinggi, pengembangan intelek atau kecerdasan. 3. Aliran RekonstruksionalismeRekonstruksionalisme memandang pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung terus dalam hidup. Sekolah yang menjadi tempat utama berlangsungnya pendidikan haruslah merupakan gambaran kecil dari kehidupan sosial di masyarakat. 4. Aliran PernnialismePerennialisme adalah gerakan pendidikan yang mempertahankan bahwa nilai-nilai universal itu ada, dan bahwa pendidikan hendaknya merupakan suatu pencarian dan penanaman kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai tersebut. Guru mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurut perennialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif. Jadi dengan berpikir, maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan. Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan memahami faktor-faktor dan masalah yang perlu diselesaikan dan berusaha mengadakan penyelesaian masalahnya. 5. Aliran IdealismeAliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli cita dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai ide, ia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai alat untuk mengukur, mengklasifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari.